Selasa, 04 September 2012

JENIS DAN TATA CARA PEMELIHARAAN SAPI PERAH


MAKALAH PENGHAYATAN PROFESI KEDOKTERAN HEWAN
JENIS DAN TATA CARA PEMELIHARAAN SAPI PERAH
oleh
Anggina Sari Salmi
Arian Putra
Ica Antika
Tantina

Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor
2009/2010

DAFTAR ISI

Halaman
Daftar Isi …………………………………………………………………………….. i
Daftar Gambar …………………………………………………………………….. ii
Daftar Tabel …………………………………………………………………………      ii
PENDAHULUAN ………………………………………………………………………………..     1
Latar Balakang ……………………………………………………………………………     1
Tujuan ……………………………………………………………………………………….     1
TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………………………………    2
PEMBAHASAN …………………………………………………………………….      3
Penampilan luar dan pertulaangan ……………………………………………………….      3
Struktur dan pertumbuhan ambing …………………………………………..                    3
Ras  ……………………………………………………………………………………..                    4
Pertumbuhan sapi perah  ………………………………………………………..                   8
Dinamika laktasi …………………………………………………………………….                   9
Pakan  ………………………………………………………………………………….                    10
Sistem perkandangan sapi perah ……………………………………………..                   11
Efek lingkungan terhadap penampilan produksi ……………………                   14
Manfaat pemeliharaan sapi perah …………………………………………….                   15
Peran dokter hewan dalam pengembangan sapi perah ……………                   16
SIMPULAN  ………………………………………………………………………………………..    17
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………….    17


DAFTAR GAMBAR
1. Friesian Holstein …………………………………………………………………………………..            5
2. Brown Swiss………………………………………………………………………………….  6
3. Ayrshire …..…………………………………………………………………………………..  6
4. Guerensey …………………………………………..……………………………………….  7
DAFTAR TABEL
1.   Estimat Bobot Hidup Sapi Perah pada Berbagai Usia …………………………………     9
PENDAHULUAN
Latar belakang
Sapi perah adalah hewan ternak  yang  berasal dari family Bovidae seperti bison, banteng dan kerbau. Sapi perah memiliki banyak manfaat yaitu menghasilkan air susu, daging, tenaga untuk bekerja, biogas, dan berbagai kebutuhan lainnya.. Sapi didomestikasikan sejak 400 tahun SM, dan diperkirakan berasal dari Asia tengah yang kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh Asia. Selain jenis  sapi persilangan, ada pula jenis sapi asli seperti red shindi, australian milking zebu, brown swiss dan lainnya. Persilangan antar sapi perah dilakukan untuk mendapatkan sapi perah yang memiliki kualitas bagus. Persilangan ini dilakukan pada sapi lokal dengan sapi Friesian Holstein di Grati untuk memperoleh sapi perah yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.
Salah satu hewan ternak penghasil protein yang sangat penting adalah sapi perah. Sapi menghasilkan sekitar 50% kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu, dan 85% kebutuhan kulit. Sapi perah merupakan penghasil air susu yang kaya akan protein yang merupakan sumber gizi yang penting untuk bayi, anak dalam masa pertumbuhan serta lanjut usia. Protein dalam air susu sangat penting untuk menunjang pertumbuhan kecerdasan dan daya tahan tubuh. Selain bermanfaat bagi tubuh, sapi perah juga berperan besar dalam menunjang perekonomi dan kelestarian ekosistem. Sapi perah bisa dijadikan komoditas bisnis, selain itu bahan bakar dari fefesnya dapat menjadi solusi untuk pencemaran udara.
Dilihat dari segi ekonomi pula, peternak sapi perah sebenarnya mempunyai peluang usaha yang sangat besar dikarenakan kebutuhanan permintaan masyarakat terhadap susu mulai meningkat dan bertambah, sedangkan populasi sapi perah yang tidak seimbang dengan permintaan tersebut. Hal itu menyebabkan kebutuhan susu tidak dapat terpenuhi. Artinya prospek usaha ternak sapi perah cukup baik dan menjanjikan.
Tujuan
Tujuan makalah ini dibuat adalah untuk mengetahui jenis-jenis sapi perah, seperti spesies, ciri morfologi, ras, dan prilaku. Serta mengetahui aspek-aspek pemeliharaan, manfaat yang diberikan sapi perah bagi manusia, dan peran dokter hewan dalam pemeliharaan sapi perah.
TINJAUAN PUSTAKA
Sapi perah di Indonesia sebagian besar adalah dari jenis Friesian Holstein dan hasil silang lokal. Sedangkan sisianya hanya sebagian kecil saja dari Friesian Sahiwal. Sapi perah yang disebut belakangan ini hanya sebagian sapi percontohan yang didatangkan pertama-tama untuk riset. Selain itu masih dikenal beberapa jenis sapi perah yang ada di dunia antara lain Jersey, Brownswiss, Jersey cross, dan juga Brownswiss cross.
Pemeliharaan jenis sapi perah Friesian Holstein memang sangat tepat ditinjau dari produksi susunya karena sapi ini memiliki produksi susu yang paling tinggi bila dibandingkan dengan sapi perah seperti, Jersey dan Friesian Sahiwal (Mahaputra, 1983)
Jenis-jenis sapi perah yang ada di dunia antara lain, Red shindi, Milking shorthorn, Jersey, Fries Holland, Brown swiss, Ayrshire, dan Australian milking zebu. Taksonomi sapi perah dapat dilihat pada uraian dibawah ini:
Taksonomi sapi perah
Kingdom          : Animalia
Filum               : Chordata
Kelas               : Mammalia
Ordo                : Artiodactylia
Sub Ordo        : Ruminansia
Famili              : Boviadae
Genus             : Bos
Spesies           : Bos taurus (sebagian besar sapi)
Bos indicus (sapi berpunuk)
PEMBAHASAN
A. Penampilan Luar dan Pertulangan
Secara penampilan, sapi perah yang baik adalah sapi yang memiliki ukuran  tubuh yang tidak terlalu gemuk. Tonjolan-tonjolan tulangnya terlihat, walapun demikian sapi harus masuk dalam kategori  sehat (aktif, memiliki nafsu makan yang baik, berkulitnya halus, rambut mengkilat dan memiliki mata besar serta bersinar) (Blakely and Blade, 1991).
B. Struktur dan Pertumbuhan Ambing
Pada sapi perah ambing merupakan bagian organ yang sangat penting. Ambing adalah suatu kelenjar kulit yang ditutupi oleh rambut  kecuali pada bagian putingnya (Prihadi, 1997). Ambing terdiri atas bagian-bagian kecil dari jaringan sekretorik yang tersusun dari alveoli. Sejumlah alveoli bergabung menjadi satu oleh satu saluran dan terbungkus oleh jaringan ikat membentuk satu lobulus. Lobulus-lobulus tersebut bergabung menjadi satu membentuk lobus. Jaringan sekretorik memiliki jaringan ikat. Apabila jumlah jaringan ikat pada ambing lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jaringan sekretorik, maka ambing tersebut adalah ambing daging. Hal sebaliknya, jika jumlah jaringan sekretorik lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jaringan ikat, maka ambing tersebut disebut ambing kelenjar (Syarief et al, 1984).
Setiap sapi memiliki ukuran dan bentuk kelenjar susu yang berbeda-beda. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan berproduksi, umur ternak, dan faktor genetik yang diturunkan oleh induknya, (Prihadi, 1997). Pada beberapa jenis hewan, termasuk sapi perah, kelenjar susu mengeluarkan kolostrum yang kaya akan bahan-bahan antibodi. Kolostrum tersebut akan melindungi pedet terhadap infeksi berbagai macam penyakit. Perlindungan ini berlaku selama beberapa minggu setelah lahir. Perkembangan kelenjar mamae pada sapi perah sangat baik. Ternak mamalia lain jumlah sekresi susunya berpengaruh terhadap efisiensi produksi daging (Prihadi, 1997).
C. Ras
Sapi perah dibedakan menjadi dua menurut asalnya, yaitu sapi yang berasal dari daerah tropis (Bos indicus) dan sub tropis (Bos taurus) (Blakely and Blade, 1991).
1.a Sapi Perah Asal Daerah Tropis
Red Shindi
Sapi ini berasal dari daerah India, yang berbadan kecil,  padat dan berwarna merah. Sapi ini bertubuh kokoh, kuat dan berat. Gelambir sapi Red Shindi berukuran lebar, serta memiliki kaki yang pendek, berambut lembut dan memiliki ambing yang menggantung dan putingnya besar. Berat badan sapi jantan 450-500 kg, sedangkan sapi betina 300-350 kg. produksi susu sapi ini adalah 1500 sampai 2000 liter per tahun dengan kadar lemak 5% (Sastroamidjojo, 1990).
Sapi jenis ini di subkontinen India merupakan sapi perah yang tergolong baik walaupun digunakan untuk tenaga kerja rinngan dan berat serta banyak di ekspor ke negara-negara tropis untuk memperbaiki produksi air susu sapi lokal (Reksohadiprodjo, 1984).
Sahiwal
Sapi perah Sahiwal berasal dari Pakistan, tepatnya distrik Punjab. Leher sapi ini lebih besar daripada Red Shindi, memiliki tubuh yang agak panjang dan dalam, tanduknya sangat pendek bahkan pada sapi betina hanya berupa bungkul saja. Berat badan sapi jantan dewasa 500-600 kg, sedangkan sapi betina dewasa 450 kg. produksi air susu sekitar 1300 kg per tahun denngan kadar lemaknya 4-6% (Sastroamidjojo, 1990).
Sapi perah jenis Sahiwal ini memiliki warna beraneka ragam dan kelabu kemerah-merahan. Sapi ini berbadan besar, berat, panjang dan berdaging. Kulit sapi ini hampir tidak berpigmen dan kepala sapi pejantan lebar dan masif. Sapi ini memiliki tanduk yang pendek dan pada sapi betina tanduknya tebal dan longgar pada pangkalnya. Telinganya sedang dan memiliki rambut hitam di bagian pinggirnya. Gelambir sapi ini besar, luas, dan berat. Preputium pejantan menggantung, dan ambing pada betinanya berukuran  besar (Reksohadiprodjo, 1984).
1.b. Sapi Perah Asal Daerah Sub Tropis
Friesian Holstein
Asal sapi jenis Friesian Holstein adalah Friesland, Belanda. Di Indonesia sapi ini dikenal dengan nama Fries Holland (Soetarno, 2003).
Sapi Friesian Holstein (FH) yang memiliki corak hitam putih memiliki produksi susu yang tinggi dan berkadar lemak rendah. Hal ini sangat cocok dengan kondisi pemasaran saat ini (Blakely and Blade, 1991).
FH merupakan bangsa sapi perah terbesar yang paling menonjol di Amerika Serikat. Jumlahnya berkisar antara 80% sampai 90 % dari seluruh sapi perah yang ada. Ciri-ciri fisik sapi FH adalah warna rambutnya belang hitam putih dengan perbatasan tegas sehingga tidak terdapat warna bayangan.  Pada dahi ini terdapat warna putih berbentuk segitiga, pada bagian dada, perut bawah, kaki dari tracak sampai lutut dan rambut ekor kipas berwarna putih, memiliki tanduk berukuran kecil, menjurus ke depan. Sapi FH bersifat tenang sehingga mudah dikuasai, namun sapi ini tidak tahan terhadap panas. Sapi Holstein betina secara umum memiliki bobot 1250 pound (567 kg) dan untuk pejantan bobot minimumnya sebesar 1800 pound (816 kg). Jika dibandingkan Friesien Holstein lebih besar dibandingkan dengan sebagian besar ternak yang lain dalam satu bangsa. Bangsa sapi perah holstein mempunyai kemampuan menghasilkan air susu lebih banyak daripada sapi perah lainnya, yaitu mencapai 5982 liter per laktasi dengan kadar lemak 3,7% (Syarief, 1984).
Brown Swiss
Brown Swiss adalah jenis sapi yang dikembangkan di lereng-lereng pegunungan di negara Swiss. Sapi-sapi ini memiliki kemampuan merumput yang baik karena terbiasa merumput di kaki-kaki gunung pada musim semi sampai lereng yang paling tinggi selama musim panas (Blakely and Blade, 1991).


Gambar.2 Brown Swiss
Sapi brown swiss memiliki kisaran berat badan untuk yang betina mencapai 1200 sampai 1400 pound, sedangkan yang jantan mencapai 1600 sampai 2400 pound . Ciri fisik sapi ini berwarna coklat muda sampai coklat gelap, serta tercatat sebagai sapi yang mudah dikendalikan dengan kecenderungan bersifat acuh. Tujuan pengembangan Sapi Brown Swiss adalah untuk memenuhi kebutuhan  keju dan daging, serta susunya dalam jumlah besar dengan kandungan bahan padat dan lemak yang relatif tinggi (Prihadi, 1997).
Ayrshire
Ayr adalah adalah daerah tempat dikembangkannya sapi jenis Ayrshire. Daerah ini berada di bagian barat daya Skotlandia. Kemampuan merumput  sapi ini sangat rendah karena wilayah tersebut dingin dan lembab, ditambah dengan padang rumput tidak banyak tersedia. Dengan demikian jenis ternak tersebut terseleksi secara alamiah (Blakely and Blade, 1991).
Gambar.3 Ayrshire
Secara fisik sapi Ayrshire memiliki warna yang  bervariasi dari merah dan putih, sampai warna mahagoni dan warna merahnya amat terang atau hampir hitam. Sapi Ayrshire memiliki sifat yang sangat aktif, peka dengan keadaan di sekitarnya dan cerdik. Stamina dari sapi ini cukup tinggi sehingga sapi ini kuat dan aktif dalam merumput (Soetarno, 2003). Kisaran berat badan sapi ini untuk yang betina mencapai 1250 pound dan yang jantan mencapai 2300 pound (Prihadi, 1997).
Guernsey
Bangsa sapi Guernsey dikembangkan di pulau Guernsey, salah satu dari pulau-pulau yang terletak di selat antara Perancis dan Inggris. Pulau tersebut dikenal karena padang rumputnya yang bagus, sehingga pada awal seleksinya, sifat-sifat dan kemampuan merumput bukan hal penting yang terlalu diperhatikan (Blakely and Blade, 1991).
Gambar.4  Guernsey
Warna sapi Guernsey bervariasi dari kuning terang sampai merah dengan tanda warna putih pada dahi, kaki, rambut kipas ekor, lipatan antara paha, dan perut (selangkangan = flank). Bangsa sapi Guernsey peka dan aktif, tetapi tidak mudah terganggu (Soetarno,2003). Sapi ini lebih jinak dan aktif, tidak nervous, mudah dipelihara, waktu dewasa lambat dibandingkan dengan Jersey, pertama kali melahirkan umur 26 sampai 28 bulan dan dikawinkan pertama kali umur 15 sampai 16 bulan. Produksi air susu dapat mencapai 4000 kg per laktasi dengan kadar lemak 4,86%. Berat badan untuk sapi betina dewasa 400 sampai 650 kg dan sapi jantan dewasa 850 kg (Syarief, 1984).
Secara umum sapi perah dewasa dapat dicirikan dengan kepala panjang, sempit halus, sedikit kurus, dan tidak berotot. Leher panjang dan lebarnya sedang, besar gelambirnya sedang, dan lipatan kulit leher halus. Pinggang pendek dan lebar. Gumba punggung dan pinggang merupakan garis lurus yang panjang, kaki kuat tidak pincang dan jarak antar paha lebar. Badan berbentuk segitiga tidak terlalu gemuk dan tulang-tulang agak menonjol. Dada lebar, dan tulang rusuk panjang serta luas. Ambing besar, luas memanjang ke depan ke arah perut dan melebar sampai di antara paha. Produksi susu tinggi . Umur 3,5-4,5 tahun, sudah pernah beranak. Berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu yang tinggi. Tubuh sehat dan bukan pembawa penyakit (Calder, 1996).
D. Pertumbuhan sapi perah
Kebutuhan sapi perah akan zat makanan terdiri atas kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan produksi. Dalam praktek, kebutuhan hidup pokok itu diterjemahkan ke dalam bahasa yang pengertiannya sederhana dan mudah diukur, yaitu kebutuhan untuk mempertahankan bobot hidup. Seekor sapi yang memperoleh makanan hanya sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup pokoknya, maka sapi tersebut tidak akan bisa memproduksi susu. Jika sapi tersebut memperoleh makanan lebih dari kebutuhan hidup pokoknya, maka kelebihan energinya akan dialihkan menjadi produk lain seperti susu, daging, dan tenaga. Kebutuhan akan zat makanan untuk menghasilkan produk-produk tersebut  disebut dengan  kebutuhan produksi (Toha, 1983). Kebutuhan sapi perah akan zat makanan erat hubungannya dengan bobot hidup, kemampuan reproduksi dan tingkat produksi.
Estimasi bobot hidup sapi perah dalam berbagai usia pada disajikan dalam tabel berikut
Tabel 1. Estimat Bobot Hidup Sapi Perah pada Berbagai Usia
Sumber: Ceramah Ilmiah: Tata Laksana Makanan dan Kesehatan Sapi Perah, PDHI Cab. Jawa Barat 1983
E. Dinamika laktasi
Jika dirawat secara baik, sapi perah betina dapat beranak pada umur sekitar 2.5 tahun. Setelah melahirkan dapat diperah selama 10 bulan. Menjelang kelahiran berikutnya dikeringkan selama 2 bulan. Selanjutnya, sapi tersebut dapat beranak tiap tahun . Sapi laktasi yang baru beranak untuk pertama atau kedua kalinya, umurnya masih muda sehingga diharapkan masih tumbuh.
Selama laktasi, sapi perah mengalami perubahan-perubahan seperti berikut:
Pertama, produksi air susunya fluktuatif. Mula-mula agak rendah, kemudian meningkat sampai mencapai titik tertinggi pada bulan laktasi kedua.  Setelah itu meluncur turun hingga mencapai titik terendah pada bulan laktasi kedelapan hingga kesepuluh.
Kedua, selera makan sapi memperlihatkan kecenderungan yang berlawanan dengan produksi air susu. Pada bulan-bulan pertama laktasi yaitu pada saat produksi air susu tinggi selera makan sapi rendah kemudian berangsur-angsur bangkit hingga mencapai puncaknya hingga bulan laktasi ke tiga. Selanjutnya karena anak yang ada dalam perut sapi banyak meminta ruang dalam rongga perutnya, selera makan sapi kembali menurun.
Ketiga, hasil penimbangan bobot menunjukkan bahwa selama laktasi bobotnya tidak tetap. Awal laktasi produksi susu tinggi sedangkan bobotnya menyusut. Kemudian berangsur-angsur naik kembali dan turun lagi.
Perubahan yang mempunyai kecenderungan seperti itu menimbulkan beberapa masalah. Pada awal laktasi sapi berada pada neraca zat makanan yang negatif. Artinya sapi tersebut lebih banyak mengeluarkan zat makanan kedalam air susu, tinja, air seni dari pada yang diperolehnya melalui pemberian makanan. Hal ini sukar sekali dicegah. Kekurangan zat makanan diambil dari tubuhnya sendiri hingga bobotnya menyusut.
Selain kuantitas air susu yang berubah, kualitas air susu yang dihasilkan juga ikut berubah. Terutama kadar lemak dan kadar proteinnya. Pada awal laktasi, yaitu 3-5 hari pertama setelah melahirkan, sapi perah menghasilkan kolostrum yang berbeda dengan air susu biasa. Kolostrum nampak berwarna kuning, konsistensinya kental dan komposisi zat makanannya serba tinggi. Kandungan zat makanan tersebut kemudian berangsur-angsur menyusut hingga puncak laktasi yaitu sekitar bulan laktasi kedua. Kandungan lemak dan proteinnya mencapai titik terendah dan berangsur naik hingga pada akhir laktasi konsentrasinya menjadi lebih kental (Yusran et al, 1994).
F. Pakan
Pakan ternak perah adalah bahan-bahan yang dapat diberikan kepada ternak perah sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa menggangu kesehatan, dengan tujuan selain untuk kelangsungan hidupnya secara normal juga diharapkan dapat mengoptimalkan produksi. Tingginya produksi susu sapi perah ditentukan oleh faktor kebakan atau keturunan sebesar 25% dan 75% ditentukan oleh faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang besar pengaruhnya terhadap produksi adalah “makanan”. Karena itu program penyediaan mkananan sapi perah yang baik sangat diperlukan untuk meningkatkan keuntungan dari produksi yang dihasilkan. Agar diperoleh hasil seoptimal mungkin diperlukan susunan ransum yang seimbang, artinya ransum tersebut mengandung semua zat-zat maknan (nutrisi) yang diperlukan dalam imbangna yang tepat (Soetarno, 2003).
Pemberian zat makanan yang tidak cukup dan membatasi sekresi susu sapi separ karena laju sintesis dan difusi dari berbagai komposisi susu yang berasal dari makanan yang sifatnya sementara. Sapi perah selain diberi pakan hijauan, perlu diberi pakan berupa konsentrat sebagai pelengkap zat gizi yang tidak diperoleh dari hijauan. Konsentrat (tidak terminus tambahan protein) merupakan bahan pakan yang berenergi tinggi dan berserat rendah (< 18%) serta mengandung protein  20%, konsentrat semacam itu disebut konsentrat sumber energi. Sedangkan bila mengandung protein <20% konsentrat seperti itu disebut konsentrat sumber protein. Selain itu hijauan dapat berupa daun-daun seperti daun pisang, nangka, cemara, waru, yang kandungan patinya cukup. Sedangkan dari konsentrat dapat berupa tepung tulang, NaCl, mineral Cu, P. Untuk minum diperlukan air. Hewan ternak memperoleh air minum dari air yang disediakan dan air yang terkandung dalam pakan serta air metabolic (Tillman, 1983).
Menurut penjelasan dari Tillman (1983), bahwa untuk memproduksi 1 kg susu dibutuhkan 4 sampai 5 kg air. Selanjutnya sapi perah akan mengkonsumsi air lebih banyak bila diberikan secara bebas. Pakan sapi perah harus memenuhi hidup pokok, pertumbuhan fetus dan produksi susu (bagi yangsedang laktasi). Pakan yang baik harus cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral dan air susu. Defisiensi Ca pada ternak sapi perah menyebabkan milk fever (demam susu).
G. Sistem perkandangan sapi perah
Jenis kandang untuk sapi perah ada tiga yaitu kandang laktasi tunggal, kandang laktasi ganda dan kandang pedet. Kandang berfungsi untuk melindungi sapi dari cuaca buruk, hujan, panas matahari serta keamanan dari gangguan binatang buas dan pencurian (Timan, 2003).Bangunan kandang didasarkan pada keperluan usaha sapi perah, dan pembangunannya ditujukan untuk mengurangi penggunan waktu dalam pemeliharaan, efisiensi kerja dan tenaga kerja. Besar bangunan harus disesuaikan dengan rencana jumlah ternak yang akan dipelihara dalam keadaan iklim setempat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan kandang adalah cahaya matahari, ventilasi, letak kandang, parit (Sutarno, 1994).
Macam-macam kandang sapi perah antara lain kandang pedet dan kandang sapi induk. Kandang pedet dibedakan menjadi kandang observasi (observasi pens), kandang individu (individual pans), kandang kelompok (group pens), kandang pedet berpindah (portable calf pens) (Sutarno, 1994). Kandang sapi induk atau sapi dara antara lain kandang tambat (stanchion bain), pada kandang ini kebebasan sapi bergerak sangat terbatas, sehingga kondisi sapi kurang baik. Kandang ini ada dua jenis yaitu kandang bertingkat dan kandang tunggal atau satu lantai, dengan tujuan mengurangi resiko angin topan, mengurangi resiko kebakaran, murah dan membuatnya, serta mudah perawatannya (Sutarno, 1994).
Kandang tunggal atau satu lantai dilihat dari penempatan sapi dibedakan menjadi satu baris atau lebih dari satu baris. Jenis kandang yang lain yaitu kandang lepas yang merupakan sistem kandang yang memberi kesempatan sapi bebas karena tidak ditambat. Kandang ini terdiri dari kandang lepas sistem loose housing merupakan kandang sapi perah yang sapinya tidak ditambat, bagian kandang ini terdiri dari ruang tempat istirahat, tempat peranginan dan tempat penyimpanan makanan, tempat memerah dengan mesin dan tempat sapi kering. Kandang lepas system freestall pada prinsipnya sama dengan system loose housing, yaitu sapi dipelihara dikandang dengan tidak ditambat. Pada kandang freestall tempat istirahat atau tidur sapi disekat-sekat, dan tiap sekatnya hanya cukup untuk satu ekor (Sutarno, 1994).
Beberapa faktor yang turut menentukan ukuran, tipe, dan penggunaan kandang antara lain ukuran nyata dari kelompok sapi perah dan rencana ekspansi; kemiringan, pengaliran dan penampakkan sisi bangunan; kondisi iklim; ukuran dan produktivitas usaha; tenaga kerja yang tersedia; modal yang tersedia; aturan sanitasi dan aturan perdagangan susu; aturan pembangunan dan bangunan di wilayah itu; kesukaan personel (Soetarno, 2003).
Pada kajian teknis beberapa hal perlu dipertimbangkan antara lain ternak sapi perah harus dapat berada atau meletakkan diri di suatu ruangan yang memungkinkannya melakukan berbagai gerakan dan khususnya untuk tidur: sinar yang dapat menjamin kesehatan yang baik dari ternak dan membuat ruang menjadi menyenangkan; orientasi sumbu utara-selatan menjamin panas yang baik sepanjang hari terutama di pulau Jawa; ternak perah butuh suhu optimal pada suhu 1 sampai 15oC; ventilasi udara kandang tidak boleh terlalu lembap terlebih di negara tropika basah seperti Indonesia; kecepatan angin kurang dari 0,25 m/detik untuk suhu <100C sedangkan untuk suhu >200C kecepatan anginnya >1m/detik (3.600 m/jam); kadar amoniak yang diijinkan adalah 5 ppm (5 bagian per sejuta); udara sekitar harus mengandung cukup oksigen untuk pernafasan sekitar 0,2 m3/jam tiap kg berat hidup (Soetarno, 2003).
Letak kandang diusahakan tidak terletak pada pusat kota atau pemukiman penduduk, letaknya harus lebih tinggi dari wilayah sekitarnya sehingga sekitar kandang tidak kumuh atau air dari kandang tidak mencemari dan wilayah sekitarnya tetap bersih dan kering, cukup tersedia air bersih sepanjang tahun untuk minum sapi, memandikan sapi, membersihkan kandang, peralatan penampung susu dan keperluan lainnya, tersedia tanah untuk umbaran/pelepasan sapi dan tanaman hijauan pakan sapi, kandang diusahakan agar terhindar dari angin kencang dengan menanami pepohonan di sekitar kandang atau pagar hidup yang biasanya cukup untuk menahan angin (Soetarno, 2003).
Kebersihan kandang merupakan syarat penting bagi sapi perah perlu selalu ditekankan dan benar-benar diperhatikan. Tidak boleh ada pojok, lobang-lobang atau retak pada lantai, tempat makanan dan sebagainya yang menyebabkan menyukarkan usaha kebersihan. Pojok-pojok hendaknya dibuat agak bundar, semua lobang-lobang dan kerusakan lantai harus segera diperbaiki sehingga kandang harus diusahakan tetap bersih, kering dan bebas dari sarang laba-laba. Kandang dikapur sedikitnya setahun sekali dengan warna agak tua (kelabu) agar tidak menyakitkan mata sapi (Soetarno, 2003).
Cahaya matahari diusahakan dapat masuk ke dalam kandang sebanyak-banyaknya, lebih-lebih cahaya matahari pagi musuh terbesar dari segala macam kuman-kuman, dan pada pagi hari (saat cuaca baik) sebaiknya sapi dilepas diluar kandang karena sinar matahari pagi baik untuk kesehatan sapi (Soetarno, 2003). Pertukaran udara di kandang perlu dijaga agar pertukaran udara di kandang sempurna. Kandang sapi perah di daerah tropis sebaiknya terbuka (tidak berdinding) kecuali di daerah pegunungan yang udaranya dingin atau anginnya kencang, kandang sebaiknya tertutup (berdinding), tetapi dapat dibuka pada siang hari agar sirkulasi udara dapat dijaga (Soetarno, 2003).
Upaya-upaya pencegahan untuk mengatasi pencemaran lingkungan antara lain sebaiknya kandang sapi perah terpisah dengan tempat pemukiman atau lebih tinggi dari sekitarnya. Semua kotoran dari kandang (feses dan sisa pakan) dikumpulkan di tempat berlubang yang diberi atap, air dari kandang sebelum masuk sungai harus terlebih dahulu melalui peresapan. Apabila memungkinkan feses sapi dan sisa pakan dapat dibuat menjadi biogas. Pembuatan biogas tersebut dapat menjadi cabang usaha yang menjanjikan (Soetarno, 2003).
Selama hidupnya sapi perah lebih banyak  berada didalam kandang. Oleh karena itu kandang berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat pemerahan susu dilakukan. Kandang dan lingkungan disekitarnya harus dibersihkan setiap hari dan secara teratur. Bersihkan lantai kandang bila perlu menggunakan disinfektan untuk membunuh kuman dan bakteri. Tempat makan dan minum harus dibersihkan setiap hari, tempat makan dan minum yang kotor merupakan sarang bibit penyakit. Untuk menghindari debu sapi diberi makanan kering satu jam sebelum pemerahan atau sesudah pemerahan (Sutarno,1999).
Kandang dan lingkungan yang bersih menghindarkan susu dari pencemaran oleh kotoran dan bau karena sifat susu mudah menghisap bau sekitarnya. Apabila akan dilakukan pemerahan lantai harus bersih, kotoran harus dibuang tidak didekat kandang dengan menggunakan sekop yang berbeda untuk makanan. Kandang yang bersih membuat sapi nyaman. Hal ini dapat meningkatkan produsinya dan memberikan kenyamanan pada peternak saat ke kandang (Sutarno,1999).
H. Efek Lingkungan terhadap Penampilan Produksi
Diantara bangsa sapi perah, sapi FH tergolong kedalam bangsa sapi yang paling tinggi daya tahan panasnya. Hasil penelitian terhadap sapi FH di kawasan tropis seperti Indonesia memperlihatkan bahwa penampilan produksinya tidak berselisih jauh dengan di daerah asalnya yang bersuhu sejuk 18.3oC dengan kelembaban sekitar 55%.
Oksidasi makanan dalam tubuh menghasilkan panas. Jika sapi pernah berada dalam lingkungan bersuhu tinggi , sapi tersebut akan mempertahankan diri dengan mengurangi konsumsi. Hal ini mengakibatkan produksi air susunya juga turun.
Walaupun sapi perah memiliki daya tahan yang rendah terhadap suhu tinggi, pada kenyataannya sapi-sapi tersebut memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi di negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sapi perah yang dikembangbiakkan di kota-kota besar untuk menunjang perekonomian (Marshall et al, 2003) .
I. Manfaat Pemeliharaan Sapi Perah
Salah satu usaha pemerintah dalam pembangunan jangka panjang di bidang pertanian adalah menciptakan kondisi usaha di sub sektor peternakan yang tangguh dan mampu mendukung industri yang kuat. Pengembangan usaha sapi perah merupakan salah satunya. Usaha peternakan sapi perah rakyat di daerah pedesaan merupakan pola usaha tradisional unggulan karena dianggap lebih pesat perkembangannya dibanding dengan usaha ternak lainnya. Hal ini disebakan oleh hasil produksi susu yang berkesinambungan sepanjang tahun dan jumlah  permintaan susu yang tinggi (Farida, 2004).
Susu Sapi
Susu merupakan bahan pangan sumber protein hewani yang harganya relatif murah jika dibandingkan dengan daging. Harga susu jauh lebih murah dibandingkan dengan daging jika dilihat dari kadar proteinnya. Oleh sebab itu pemeliharaan sapi perah dapat menunjang peningkatan gizi keluarga di Indonesia. Susu yang mengandung berbagai jenis komponen gizi merupakan substrat yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme baik bakteri, kapang, dan khamir. Pertumbuhan berbagai jenis mikroba tersebut dapat menyebabkan perubahan-perubahan pada susu seperti rasa, bau, warna dan bentuk sehingga tidak sesuai lagi untuk dikonsumsi segar ataupun dijadikan sebagai bahan baku dalam memproduksi berbagai olahan susu (Rahman et al, 1992).
Protein susu terbagi menjadi dua kelompok utama yaitu kasein dan whey. Kasein adalah protein utama susu yang jumlahnya kira-kira mencapai 80% dari total protein. Kasein dapat diendapkan oleh asam, alkohol, rennet dan logam berat. Pemanasan susu sampai mendekati titik didih akan menyebabkan terbentuknya lapisan film atau kulit yang keras dan menggumpal pada permukaan susu. Gumpalan atau padatan tersebut disebabkan oleh komponen kasein bersatu dengan butiran lemak yang dikenal sebagai tahu susu (curd). Gumpalan tersebut dapat dipisahkan dari cairan dengan disaring, dan cairan sisa tersebut dikenal sebagai whey (Buckle et al.,1987).
Kualitas air susu dapat dipengaruhi oleh kadar mineralnya. Konsentrasi mineral yang rendah dapat menurunkan bobot jenis air susu. Bobot jenis air susu merupakan salah satu kriteria kualitas air susu yang sangat diperhatikan. Saat ini air susu yang dihasikan peternakan sapi perah rakyat sering mempunyai bobot jenis yang lebih rendah dari bobot jenis standar terendah, bobot jenis standar terendah adalah 1.027 pada suhu 27,5°C. Air susu dengan berat jenis rendah, jika dijual kepada industri pengolah susu maka harganya akan rendah atau bahkan tidak diterima (Hardjosworo et al, 1987).
Air susu mengandung beberapa macam mineral. Mineral yang terdapat dalam air susu berasal dari makanan yang dikonsumsi, namun komposisinya tidak sama seperti dalam makanan. Mineral yang terdapat dalam air susu adalah Ca, B, Ma, K, Mg, Mn, I, Fe, S, dan mineral esensial lainnya (Foley et al,. 1972).
Pembuatan Biogas
Kotoran sapi memiliki kandungan methan yang tinggi. Selain itu, kandungan karbondioksida (CO2) juga cukup banyak. Dengan dua unsur itu, pemanfaatan kotoran sapi untuk biogas bisa terjadi. Penelitian menunjukkan biogas dapat terbentuk dengan 68 persen kandungan gas methan dan 30 persen CO2 di kotoran sapi. Dua persen lagi zat lain yang bisa digunakan untuk membantu proses pembuatan biogas. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menuangkan kotoran sapi yang banyaknya mencapai 22 kg ke dalam tabung yang dibentuk dari 3 buah drum bekas. Setelah itu, kotoran itu dieram dalam tabung selama 21 hari. Kalau sudah lewat dari waktu tersebut, akan terlihat hasil olahan otomatis dari tabung untuk dijadikan biogas.
Gas yang dihasilkan kemudian dipakai untuk memasak. Dari 22 kg kotoran sapi yang diolah, gas yang dihasilkan akan cukup untuk memasak selama satu jam. Kotoran sapi yang akan diolah tak boleh terkena air sabun dan sinar matahari secara langsung. Air sabun dan sinar matahari akan menghambat pengolahan biogas. Karena itu walaupun tidak ada seleksi khusus untuk kotoran sapi yang akan diolah, namun  kotoran sapi harus dijaga agar tidak terkena air sabun dan sinar matahari (Aak, 2007).
J. Peran Dokter Hewan dalam Pengembangan Sapi Perah
(Toha, 1983) Dokter hewan memiliki peranan penting dalam pengembangan kualitas bahkan kuantitas sapi perah. Peranan utamanya adalah membantu para peternak dalam menghadapi manajemen usaha sapi perahnya, meliputi:
1.    Pelaksanaan inseminasi buatan
2.    Melaksankan pemeriksaan kebuntingan
3.    Pemeriksaan kesehatan hewan dan bila perlu pelaksanaan vaksinasi
4.    Membantu kelahiran dan perawatan induk pasca melahirkan
5.    Penyuluhan dalam manajemen ternak
SIMPULAN
Sapi perah di dunia saat ini memiliki banyak jenis diantaranya : Ayrshire,Guernsey, Jersey, Brown swiss, Milk Shorhorn, Sapi Grati, Fries Holland. Pengklasifikasian tersebut didasarkan oleh tempat sapi berasal. Di Indonesia terdapat dua jenis sapi perah yang mayoritas dikembangkan yaitu Fresian holstein dan Jersey. Hal ini  berkaitan dengan kemampuan beradaptasi yang lebih baik dari kedua sapi tersebut dibandingkan dengan sapi perah yang lain.
.         Pemanfaatan sapi perah yang utama yaitu diambil susunya sebagai sumber protein, mineral, dan vitamin. Selain itu, kotorannya dapat digunakan untuk biogas sebagai bahan energi alternatif. Produktivitas susu sapi akan meningkat jika didukung oleh kelayakan nutrisi pakan, tempat hidup, iklim, dan lain sebagainya. Semakin tinggi konsumsi pakan dan energy yang dihasilkan  maka produktivitas sapi akan  semakin meningkat. Limbah feses sapi dapat dimanfaatkan untuk biogas yang dapat dijadikan sebagai sumber energy alternatif.
DAFTAR PUSTAKA
Aak, 2007. Petunjuk Praktis Beternak Sapi Perah. Yogyakarta: Kanisius.
Blakely, J. dan D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Buckle,K.A.,1987. Ilmu Pangan. Universitas Indonesia Press.Jakarta.
Calder, W. A. 1996. Size, Function and Life History. Dover Publ. Inc, Mineola, N.Y.
Dr. Toha, 1983. Ceramah Ilmiah. Pengelolaan Tata Laksana Makanan dan Kesehatan Sapi  Perah. Pehimpunan Dokter Hewan Indonesia cab. Jawa Barat II.
Farida. 2004. Efisiensi penggunaan nutrisi pakan pada usaha ternak sapi perah [Skripsi]. Bogor: Departemen Sosial Ekonomi Industri Peternakan, Fakultas Peternakan, Intitut Pertanian Bogor.
Foley, Richard CPhd. Cs. 1973. Dairy Cattle. Lea & Febiger, Philadelphia
Hardjosworo, Peni S, & Joel M. Levie, 1987. Pengembangan Peternakan di Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia
Mahaputra, L. 1983. Postpartum Ovarian Function in Dairy Cattle [Thesis]. Msc, UPM.
Marshall Denis, Teddy. 2003. Studi Kasus di Kelompok Tani Ternak Sapi Perah Swadaya Pondok Rangon Jakarta Timur [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Prihadi. S. 1997. Tata Laksana Dan produksi ternak Perah. Fakultas Peternakan. Universitas        Gadjah Mada, Yogyakarta.
Rahman dan Ansori, 1992. Teknoogi Fermentasi. Pusat Antar Universitas pangan dan Gizi. IPB, Area, Jakarta
Reksohadiprodjo, S.1984. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. BPFE, Yogyakarta.
Sasroamidjojo, M. Samad.1990.Ternak Potong dan Kerja.CV Yasaguna, Jakarta
Sutarno, T. 1994. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM, Jogjakarta.
Syarief, M.Z dan R.M. Sumoprastowo. 1984. Ternak Perah, edisi ke- 1. CV. Yasaguna, Jakarta.
Tillman, A.D., H.Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, dan S. Labdosoekadjo. 1999. Ilmu Makanan Ternak Dasar, Gadjah Mada, Yogyakarta.
Timan, Soetarno. 2003. Manajemen Budidaya Sapi Perah. Laboratorium Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta.
Yusran, M. Ali, Mariyono, Komarudin.1994. Penelitian sapi perah. Proc. Pertemuan Ilmiah Pengolahan dan Komunikasi Hasil Penelitian Sapi Perah, Pasuruan 26 Maret.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar